Valhalla (2): Mimpi


Valhalla (2): Mimpi - aliyamuch.com
A novel, Valhalla by Aliya

Amaranthya Ravindia.

Lamat-lamat terdengar namanya dipanggil. Terdengar jauh. Di dalam kepala. Mara mencoba membuka kelopak matanya, terasa berat. Tubuhnya seperti tertindih baja beribu ton. Ototnya kaku. Ia merasakan ngilu seperti ada sayatan-sayatan sebesar semut di sekujur tubuhnya.

Kenapa ini? Apa yang terjadi? Berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Ia mencoba memusatkan indera pendengarannya. Hening. Yang terdengar hanya deru napasnya yang patah-patah.

Aku harus bangun. Ia menarik napas perlahan. Matanya masih sulit dibuka. Semacam perih dan berair. Menggerakan tubuh sedikit saja rasanya sulit belum lagi entah mengapa kedua kakinya seperti mati rasa. Semakin paniklah ia dibuatnya.

Sementara keadaan sekitar terasa sunyi mencekam, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mara mencium sedikit bau yang samar-samar, semacam bau tanah berlumpur bercampur minyak, ah entah ia tak tahu pasti. Ia mencoba menggali ingatan terdalamnya untuk tahu tempat apa dan bagaimana ia bisa sampai di sini. Terakhir kali yang diingatnya adalah tertidur dengan perut yang kosong. Iya, ini pasti mimpi.

Tapi...

Ia tidak ingat sama sekali bahwa dirinya pernah ke tempat seperti ini, dalam mimpi. Tempat yang terang namun mencekam dan mengeluarkan hawa dingin tapi anehnya di sekelilingnya tidak basah atau lembab. Tempatnya tidak gelap ataupun menyeramkan namun ada semacam hawa tidak enak yang menguar. Ini sesuatu yang lain, pikirnya.

Samar-samar sekali Mara mendengar derap langkah, beberapa orang mungkin atau ratusan atau ribuan, begitu riuh. Derap itu terburu-buru atau mungkin sedang berlari. Ia mencoba melayangkan pandangan menyipit menyelidik ke segala penjuru. Masih hening, tak ada apapun yang terjadi dan tak ada seorang pun yang terlihat. Mara semakin bingung, apakah semua ini ilusi dalam mimpi atau mimpi dalam ilusi.

"Ouch," teriaknya tersendat. Rasanya masih sakit ketika ia mencubit keras lengannya.

Bukan mimpi. Memangnya dicubit ketika mimpi bisa tidak sakit? Tidak tahu juga ia belum pernah mencobanya.

Mara berusaha terduduk dengan tegak, punggungnya sulit ditegakan sebenarnya. Tapi ia berpikir dirinya harus waspada dan sigap ketika ada sesuatu yang tidak diingankan jadilah ia ngesot sana sini untuk memperbaiki postur duduknya.

Srrrrrrr...

Ada sesuatu yang bergesekan dengan kulit lengannya bagian belakang. Mara mengernyit tak paham. Apakah ini sensasi bulu-bulunya yang berdiri karena ketakutan atau sapuan entah angin apa. Sentuhan itu semakin lama semakin halus dan merangsek ke bagian tengkuk dan punggung bagian atas.

BRAK! BRAK! BRAK!

"Maraaaaaaaaa ... Maraaaaaa," terdengar suara ibu-ibu cempreng sambil menggedor-gedor pintu dengan sengit.

Mara spontan terlonjak kaget hingga ia langsung bangun dengan posisi terduduk, celingak celinguk seperti orang bego. Ia sedang mengumpulkan kesadaran.

Teriakan ibu-ibu cempreng semakin menjadi-jadi disusul dengan suara ribut dan langkah kaki yang mendekat ke arah kamarnya. Dan Mara berani bertaruh pasti di luar orang-orang - tetangga kosan - sudah berkerumun. Maklum hanya dialah satu-satunya siswi SMA yang mana harus berada di sekolah sebelum jam menunjukan pukul 7 pagi.

Jam berapa ini? batinnya.

Tatapannya langsung menuju jendela. Sinar terang mengintip dari sela-sela gorden. Ia menoleh jam weker pemberian neneknya.

"Buset! Jam setengah tujuh," teriak Mara spontan sambil berlari membuka pintu.

"Maraaa kamu kenapa Mama sudah lama menggedor pintumu dan berteriak-teriak kayak orang gila tapi kamu tidak mendengar kamu pingsan atau apa Mama khawatir sekali kamu kenapa kamu sakit apa kenapa bilang sama Mama?" serbu mama Ajeng tanpa titik dan koma. Tetangga kosan Mara ikut menatapnya menunggu jawaban. Mereka juga terlihat cemas. Maklum Mara sudah dianggap adik oleh semua penghuni kos.

"Tidak apa-apa, kok aku tidurnya terlalu pulas. Tadi malam agak begadang," cicit Mara.

"Tugas apa? Kenapa harus sampe malem-malem? Sebaiknya kamu jaga kesehatan. Jaga diri," timpal mama Ajeng dengan tatapan khawatir.

Di dunia ini Mara tahu selain neneknya mama Ajenglah yang peduli dengannya, sudah seperti ibunya sendiri, bahkan ia memanggilnya dengan sebutan "Mama". Semua kisah hidup Mara mama Ajeng tahu. Dan sebenarnya Mara dapat tinggal di kosan miliknya pun tanpa harus bayar. Iya, Mara bukan tipe anak yang suka dikasihani, ia menolak untuk tinggal tanpa bayar. Namun sebagai gantinya mama Ajeng menawarkan agar setidaknya setiap sarapan dan minum apapun Mara harus mau diberi olehnya. Dan Mara menyetujuinya.

"Kamu biasanya kan datang jam enam kurang untuk bikin teh dan bikin sarapan, ini udah jam setengah tujuh, Mama bahkan tidak melihat kamu lewat ke kamar mandi juga kan Mama jadi khawatir kamu kenapa-kenapa." Mama Ajeng menyentuh lengan Mara." Ya sudah sekarang bergegas cuci muka, jangan mandi sudah telat dan bawa roti saja, sarapannya di jalan," tambah mama Ajeng.

Mara mengangguk dan balik badan untuk mengambil handuk dan ember kecil berisi peralatan mandi. Sementara tetangga kosan Mara yang sedari tadi mendengarkan perbincangannya ikut bubar karena mereka pun harus bersiap-siap menuju tempat kerjanya masing-masing.

***

"Sebenarnya belum ada penelitian ilmiah tentang kehidupan di bawah bumi. Banyak rumor, sih bahwa ada semacam unsur hara atau zat yang berbeda dengan dunia atas yaitu bumi yang kita huni ini tapi itu belum jelas seperti apa. Bisa jadi suatu zat yang baru sama sekali atau zat modifikasi dari zat yang ada di permukaan," tutur Andro panjang lebar. Lelaki itu memang suka sekali dengan tetek bengek hal-hal yang ganjil atau konspirasi.

Semua orang yang mendengarkan ikut tertegun sambil memikirkan apa yang ada di dunia bawah sana. Kecuali Anet. Dia memang sobat Mara yang berpikiran enteng. Tidak suka berpikir yang susah karena ia berprinsip bahwa hidup itu harus bahagia selalu dan prinsip kebahagian Anet begitu sederhana. Melihat cuplikan-cuplikan gemas The Dodo.

"Hey, Ra!" teriak Anet ketika muncul wajah terengah-engah Mara dari pintu yang ia dobrak sekenanya.

Semua orang menoleh dan heran lalu disambung dengan ketawa riuh. Betapa tidak, ia melihat Mara dengan penampilan awut-awutan sambil memegang roti yang tergigit setengahnya dan buku-buku yang diapit lengannya, sementara tangan yang satu menjinjing tas dengan sembarang.

"Kamu kenapa kayak dikejar setan?" tanya Deri yang duduk pas dekat pintu.

"Bu Fani belum datang?" Mara malah balik bertanya.

"Kayaknya, sih nggak dateng soalnya udah hampir setengah delapan ini," jawab Anet sambil berjalan menuju Mara. "Kamu kenapa, sih, Ra?" selidik Anet mengamati keadaan Mara yang mengkhawatirkan.

"Bangun kesiangan dan nggak sempet mandi," jawab Mara dengan polos. Teman-teman sekelasnya yang dari tadi masih menatap ke arahnya ketawa ngakak untuk yang kedua kalinya. Kecuali Andro yang hanya mesem-mesem menjaga image dan Anet yang tersenyum tipis, ditahan.

"Jadi gimana terusnya, An? tanya Deri dengan penasaran. Yang diamini oleh yang lainnya.

"Menurutmu gimana, Ra? Mmm tentang dunia bawah tanah?"

"Hah?!"

Mara yang baru saja menormalkan napasnya kaget dengan pertanyaan Andro. Lagian apa maksudnya pertanyaan itu, dunia bawah tanah!

"Mmaksudnya?"

"Kamu percaya nggak dengan dunia bawah tanah atau mungkin pernah tahu atau dengar?" Andro menatap Mara penasaran.

Mara hanya menganga sambil balik menatap Andro. KM di kelasnya ini memamg terkadang menyeramkan dan suka tiba-tiba bereaksi aneh. "Aku nggak percaya, karena belum ada buktinya!" jawab Mara tegas dan jelas.

"Kamu logis juga," ucap Andro tak menyangka dengan jawaban Mara. Ia pikir gadis pendiam dan kagetan sepertinya akan menjawab "tidak tahu" tapi malah menjawab dengan percaya diri.

"Baiklah, memang belum ada buktinya tapi bukan berarti tidak ada. Karena terkadang apa yang tidak bisa kita bayangkan dan belum menjadi nyata belum tentu memang benar-benar tidak ada, semuanya butuh waktu. Segala sesuatu berproses. Walau sebenarnya kita lebih cerdas pada waktu lalu, sekarang kita menjadi bodoh seperti ini," papar Andro penuh teka-teki.

Seisi kelas saling pandang. Bingung dengan perkataan sang Ketua Murid. Memangnya dulu kita pintar seperti apa? Sekarang bodoh bagaimana?

"Aku sendiri percaya dengan dunia bawah tanah. Di sana ada kehidupan. Dan kalo ada kesempatan pengen banget ke sana," sambung Andro penuh percaya diri.

"Hah! Serius, Dro?" Mikail yang ada di barisan paling belakang nyeletuk dengan keras.

"Jangan panggil "Dro", please ... Iya lah serius, kamu mau ikut?" ajak Andro dengan tampang tak kalah serius.

"No, thanks, Dro eh An ... lebih baik nongki di Upnormal," jawab Mikail datar.

Mara yang sudah menetralkan suasana tubuh dan napasnya diam-diam mendengarkan dan mencerna perkataan Andro. Ia merasa ada desiran aneh ketika membayangkan dunia di bawah sana.

Apa benar dunia itu ada?


-a

1 komentar:

  1. Novel yang bagus, penuh imajinasi tentang mimpi ini. Sukses selalu

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.